20 September 2017

author photo
Gegap gempita penyampaian jargon revolusi mental ahir-ahir ini sering kali kita dengar dan tanpa lelah senantiasa menghiasi layar kaca televisi. Jargon revolusi mental muncul semenjak perhelatan pemilihan presiden tahun 2014, muncul sebagai bagian dari kampanye calon presiden untuk menarik simpati dan menjadi bagian dari tujuan politik membenahi negeri ini.

Namun nampaknya sudah setahun berjalan sejak kepemimpinan presiden terpilih yang mengusung jargon revolusi mental, perwujudannya hingga hari ini belum terlihat. Hal ini tentu mengundang banyak tanya, apakah revolusi mental itu hanya jargon pemanis belaka?, ataukah pemerintah, yang dalam hal ini presiden Joko Widodo tidak tahu harus mulai dari mana mewujudkan revolusi mental tersebut?

Penulis menyadari bahwa memang perwujudan dari revolusi mental tersebut belum terlihat dan tentunya bukan hal yang mudah, bahkan terkesan hanya menjadi jargon-jargon penarik simpati kepemimpinan. Penulis juga mengira bahwa pemerintah dalam hal ini Joko Widodo masih menganalisa dan tidak tahu harus mulai dari mana dalam melakukan revolusi mental secara efektif dan efisien.

Memang kalau kita melihat kondisi bangsa ini, tentunya akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sering disuguhi tontonan-tontonan yang sangat memprihatinkan, mulai dari tindak kejahatan kriminal, kenakalan remaja, merajalelanya koruptor, tingkah laku pejabat yang bejat dan sebagainya itu mula-mula dikarenakan mental yang bejat dan perlu adanya revolusi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa mental anak bangsa perlu menjadi perhatian lebih, untuk itu jargon revolusi mental yang akhir-akhir ini sering didengungkan melalui media perlu segera diwujudkan dan perlu didorong oleh semua pihak agar cepat terwujud. Revolusi mental tidak akan bisa berhasil tanpa adanya gerakan nyata yang harus dilakukan oleh seluruh elemen anak bangsa, mulai dari pemerintah hingga masyarakat sampai lapisan unsur yang paling bawah.

Menurut penulis, untuk mewujudkan revolusi mental, membenahi mental-mental generasi bangssa harus dilakukan mulai dari hal yang paling dasar, yakni pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu aspek penting untuk membenahi mental-mental anak bangsa agar ke depan menjadi generasi-generasi yang pancasilais. Tanpa melalui pendidikan, gerakan revolusi mental tidak akan berjalan efektif, pasalnya pendidikanlah yang menjadi landasan dan modal utama manusia dalam mengembangkan potensi diri dalam mengarungi kehidupan. Hal ini senada dengan teori konvergensi John Luke yang mengatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan, untuk itu perkembangan manusia perlu dikawal dengan amunisi yang namanya pendidikan.

Bukan hal yang berlebihan pula jika pendidikan menjadi langkah awal dalam membenahi mental anak bangsa, mengingat pendidikan juga menjadi bagian penting dalam pembangunan. Majunya pendidikan juga akan berdampak baik terhadap majunya pembangunan sebuah bangsa. Dalam konteks pembangunan, pendidikan menjadi salah satu faktor penting dalam penentu kemajuan sebuah bangsa, karena majunya sebuah bangsa ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Menurut Sudjana, pendidikan menjadi hal yang sangat penting peranannya dalam menentukaan nasib sebuah bangsa, karena dengan meningkatkan kualitas pendidikan pada gilirannya akan meningkatkan sumber daya manusia itu sendiri (S. Sudjana: 2000).

Kembali ke persoalan perwujudan revolusi mental, pemerintah sebagai pengambil kebijakan, mau tidak mau harus membenahi mental anak bangsa dimulai dari pendidikan, misalnya menyusun kurikulum yang lebih menekankan kepada pendidikan karakter, membatasi anak-anak (generasi anak bangsa) dari pengaruh-pengaruh negatif, mislanya tentang musik-musik yang berbau pornografi dan sebagainya, terkait hal ini pemerintah juga harus memberi batasan-batasan kepada industri musik dan hiburan lainnya agar menciptakan karya yang mendidik, tidak hanya berorientasi pada materi belaka. Dan yang terpenting adalah pemerintah merangkul seluruh unsur masyarakat untuk bersama-sama membenahi mental anak bangsa dan membangun persepsi yang sama bahwa anak Indonesia adalah aset generasi emas di masa mendatang dan menjadi tanggungjawab bersama. (mukhtar)
sumber:berandapendidikan1.blogspot.co.id

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement