17 April 2018

author photo
Zulkadrin: Sekjen PMII Cab. Kutim

























17 April, bukan tanggal yang biasa biasa saja, khususnya bagi kita yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Hari ini, tepat 58 tahun yang lalu, organisasi kemahasiswaan dan keislaman ini dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur dengan semagat memegang teguh Ideologi Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, sejarah telah mencatat PMII sebagai organisasi kaum santri yang tegas

mengutarakan keberpihakannya kepada kaum Mustad’afin. PMII dengan berbagai corak dan model gerakannya, berhasil melewati fase kebangsaan mulai dari Orde Lama, Orde Baru sampai Era Reformasi dengan tetap pada cita-cita awal berdirinya, melahirkan pribadi muslim yang bertaqwa untuk memperjuangkan cita-cita bangsa.

Lepas dari panjangnya perjalanan PMII dalam lika-liku negri Indonesia, kini telah sampai pada era yang begitu jauh berbeda dengan hari kelahiran awalanya. Era dimana Negara tidak lagi mengenal batas teritorinya, era yang membuat generasi bangsa buram memandang identitasnya, era dimana apatisme, hedoneisme, pragmatisme menjadi hal yang sangat lumrah dikalangan generasi bangsa tak terkecuali dikalangan Mahasiswa. Belum lagi, fakta bahwa dunia ini semakin menuju ke arah persaingan global tidak sehat yang berpotensi terwujudnya perang dunia gaya baru,, yang apablia generasi bangsa ini tidak memiliki bekal cukup untuk menghadiapi nya, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan menjadi antah brantah. Disinilah PMII sebagai wadah Mahasiswa Intelektual (yang tidak diragukan lagi rasa kebangsaannya) diharapkan melek untuk menghadapi era yang semakin kompleks saat ini. PMII diharapkan bisa berkonsentrasi menyiapkan generasi bangsa yang unggul, tangguh dan progresif dalam menghadapi tantangan zaman yang penuh sandiwara.

Secara struktural, dalam tempo setengah abad, keberadaan PMII semakin dapat diterima oleh bangsa ini. Fakta ini bisa dilihat bahwa kepengurusan PMII ada di seluruh Provinsi dengan lebih dari 260 Cabang Kabupaten/Kota, hingga saat ini PMII menjadi organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia. Kekuatan struktur PMII inilah tentunya menjadi harapan besar Bangsa Indonesia untuk menggantungkan sebagian cita-citanya.

Baca juga: Sambut Harlah, PMII Kutim Adakan Jumat Bersih

Namun, penulis mencermati perkembangan PMII belakangan ini, apa yang diharapkan semakin menjauh dari pelupuk mata. Bukannya mengambil posisi dalam barisan melawan penjajahan gaya baru, PMII justru cenderung menjadi penjajah untuk sesama saudara dan sahabat karibnya, bahkan bisa diartikan sebagai pembaiaran terhadap kaum mustad’afin adalah penjajahan. Apa maksudnya? Ya, diusianya yang ke 58 ini, PMII secara umum dihadapkan dengan lahirnya generasi serakah dan haus kekuasaan di tubuh organisasinya. Tidak sedikit para pimpinan gerakan PMII baik di tingkat pusat sampai daerah terbuai oleh nikmat kekuasaan bergaya elit, berkoalisi dengan politisi busuk, dengan berbgai alasan pembenaran yang dicari-cari.

Para pemimpin gerakan PMII yang sudah sangat jelas menggadaikan asas independensi organisasi, akhirnya secara struktural melahirkan kebijakan organisasi yang tidak jarang menimbulkan kontroversi dan bahkan permusuhan antar kader. Yang paling lazim muncul di beranda media kita adalah perebutan kepemipinan ditubuh PMII. Tidak sedikit kepengurusan PMII yang terpecah akibat compang-camping kebijakan yang lahir dari kepengurusan PMII di tingkat yang lebih atas. Tidak sedikit pengurus PMII di Kabupaten/kota mengalami dualisme yang sampai hari ini tidak selasai. Kebijakan yang miring ini tidak lain sebagai strategi untuk memenangkan pihak-pihak tertentu yang cenderung tidak adil bagi kader-kader lainnya. Mis administrasi selalu saja menjadi alat untuk menjatuhkan yang satu, dengan yang lainnya. Belum lagi, perebutan kepemimpinan ini dibumbui dengan gaya mahar-maharan, yang membuat PMII seakan berubah dari organisasi kaderisasi menjadi organisasi politik. Selain itu, PMII juga kini mencoba mengadopsi gaya politik militerisme orde baru dam perebutan kepemimpinannya, contoh rillnya adalah Kongres ke XVII PMII di Palu 2017 kemarin, gagasan intelektual yang harusnya bisa dimunculkan, justru tenggelam akibat para pimpinan organisasi ini bersembunyi dibalik keukatan militer yang mereka hadirkan.

Akibatnya, banyak kader PMII menjadi korban ketidakadilan yang merawat kekecewaan dan ujung-ujungnya menimbulkan sentiment antar basis anggota di level bawah. Kerja-kerja ideologis progsesif akhirnya terabaikan, karena para pentolan kader sibuk dengan konflik antar sesama warga pergerakan, kesatuan gerak sulit terwujudkan, dan ironinya problem-probem rakyat ikut terabaikan. Sementara dilain sisi, zaman terus berkembang pesat meninggalkan generasi-generasi kolot yang lalai akibat pertikaian.

Jika sudah demikian, PMII benar-benar berada dalam masa kritisnya. Kendati secara kekuatan ideologis PMII tidak mudah digiring, tapi kekuatan struKtural yang rapuh, pastinya ikut merapuhkan barisan gerakan yang sudah dibangun pada basis ideologis. Hal ini selaras dengan penyataan Sayyidina Ali ra., “kebaikan yang tidak terorganisir, akan kalah dengan keburukan yang terorganisir”.

Di Usianya yang ke-58 ini, baiknya digunakan sebagai momentum evaluasi gerakan oleh kader PMII dari Sabang sampai Marauke, baik dalam pola kaderisasinya maupun gaya kepemimpinan di tingkat struktunya. Jika terus dibiarkan, kita akan melihat kerapuhan struktural ini akan membawa PMII pada Kuburannya. Mari berharap saya salah. Selamat Harlah PMII ke-58.

Penulis : Zulkadrin, Sekretaris Umum PMII Cabang Kutai Timur

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement