7 Juli 2018

author photo
Oleh Mukhtar
Malam itu, keheningan malam di sekitar Jl Gajahmada Sangatta Utara tiba-tiba pecah oleh teriakan orang dan raungan sirine damkar yang melesat menuju sumber teriakan. Keheningan dan gelapnya langit tiba-tiba menjadi cerah akibat amukan si jago merah di komplek pertokoan Jl. Gajah Mada. Keheningan juga pecah menjadi keramaian yang luar biasa bak pasar di 2/3 malam.

Hilir mudik manusia berdatangan dengan terlihat gugup dan terburu-buru dari berbagai penjuru di seputaran Sangatta, ada yang datang dari Sangatta Selatan, dari Sangatta Baru, dari Kabo, Margo Santoso dan sebagainya. Pagi itu terlihat para pengendara baik roda dua maupun empat secara tergesa-gesa memarkir kendaraannya kemudian berlarian menuju sumber kebakaran. Penulis sendiri yang kebetulan berada sekitar 150 m dari tempat kebakaran yang posisinya saat itu mengatur jalan tidak tahu apa maksud sebenarnya orang-orang rela berdatangan dari jauh untuk mendatangi kebakaran. Mendekati subuh, keramaian orang berdatangan pun makin meningkat hingga penulis bersama warga setempat tek henti-hentinya meneriakkan minggir-minggir, setop...setop..., mobil kebakaran mau masuk, dan hal itu terjadi berulang-ulang tanpa henti.

Teriakkan-teriakkan para pengatur jalan kian mengencang dan meninggi bercampur emosi seiring makin bertambahnya orang yang berdatangan dan jalan pun terlihat makin menyempit, karena banyaknya kendaraan yang terparkir serta akses pemadam kebakaran pun terganggu.

Saking kewalahannya mengatur orang berdatangan di tengah-tengah sirine mobil damkar yang kian mengencang untuk membelah keramaian menuju lokasi kebakaran, nampaknya tidak berhasil maksimal, hal ini terlihat setelah mobil damkar lewat, akases jalan menuju kebakaran kembali dipenuhi kerumunan manusia yang nampak tergesa-gesa, sebagian lagi ada yang dengan cantikan mengeluarkan gadget untuk mengabadikan momen tersebut.

Begitu ramainya lalu lalang manusia hingga aparat keamanan inisiatif menggunakan roda empat berputar-putar memberikan himbauan kepada masyarakat untuk memberi jalan dan tidak mengganggu akses mobil damkar. “Kami mohon kepada Bpk Ibu untuk minggir, memberi jalan karena menganggu mobil pemadam menuju lokasi kebakaran”, kata seorang aparat keamanan melalui pengeras suara yang terpasang di kendaraan roda empat. “Kami mohon kepada Bpk Ibu untuk minggir..”, “Kami mohon Bpk Ibu..”. Suara tersebut terdengar berkali-kali dan kian nyaring. Tidak berhasil dengan himbauan tersebut, kemudian terlihat seorang aparat keamanan lainnya menggunakan mobil hilux menyalakan sirine dan berkeliling untuk menghadang masyarakat di Jl Poros yang hendak menuju lokasi kebakaran sambil meneriakkan “stop..stop...stop..!!!, putar balik, ada mobil kebkaran”, ucapnya.

Memang agak fenomenal di Sangatta tercinta ini, apabila ada kebakaran, ketika sirine damkar meraung-rauang, dalam sejenak masyarakat berbondong-bondong mendekati lokasi kebakaran dengan berbagai motiv, mungkin ada yang datang ingin membantu, ada yang ingin menonton, mengabadikan momen dan sebagainya. Misalnya saja pada saat terjadi kebakaran di Jl Gajahmada tanggal 3 Juli lalu, pantauan penulis sejak sirine damkar berbunyi sekira pukul 3.40 masyarakat berdatangan bahkan ada yang sampai padamnya api sekira pukul 06.30 wita baru pulang. Pantauan penulis juga, kendaraan bermotor baik roda dua dan empat yang diparkir oleh masyarakat saat mendatangi lokasi kebakaran berjajar memenuhi tepi jalan sepanjang kurang lebih 500 meter.

Hal ini tentu menarik untuk dicermati dan didiskusikan, mengingat pada satu aspek tentunya kedatangan masyarakat saat terjadi kebakaran menjadi “masalah” bagi tim pemadam kebakaran karena tak jarang kehadirannya sedikit menghambat mobil damkar yang lalu lalang. Tentu saja ini menjadi tanggungjawab kita bersama agar saling mengingatkan kepada masyarakat, dan yang terpenting perlu kerja keras dari tim pemadam kebakaran untuk mensosialisaikan kepada masyarakat apabila saat ada kebakaran tidak terjadi hal demikian yang menyulitkan akses pemadaman.

Banyak hal yang bisa dilakukan salah satunya melalui pemerintah untuk mengeluarkan sebuah aturan yang mengatur hal tersebut, pada sisi lain, pihak pemadam kebakaran juga bisa bekerja dengan lembaga-lembaga keagamaan, pengurus masjid maupun gereja serta lembaga-lembaga atau komunitas lainnya untuk menitipkan materi/sosialisasi tentang hal-hal yang dapat mengganggu saat proses pemadaman agar berjalan lancar pada saat mereka mengadakan kegiatan atauapun kegiatan keagamaan.

Semoga saja kejadian tersebut menjadi pengalaman dan cerita terakhir di bumi emas hitam ini dan para korban diberi ketabahan Amiin.

Salam Pemuda Kutim Bangkit
Mukhtar


This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement