1 September 2018

author photo


Oleh: Mukhtar (Ketua Garda Bangsa Kab. Kutai Timur)
 

Ahir-ahir ini manusia dihadapkan pada kemudahan dalam berkomunikasi dan menatap masa depan melalui teknologi, salah satunya melalui media sosial, seperti facebook, twitter, intagram, whatsapp, dan sebagainya. Facebook sendiri yang muncul pada 2004 silam menjadi media sosial yang paling dominan dan familiar di abad maya dan seakan memberikan jawaban atas keterbatasan manusia dalam berinteraksi dengan sesama, yang hingga saat ini keberadaannya mampu “memasung” manusia untuk bercengkerama dengan semesta.

Dengan hanya duduk di depan layar monitor atau dengan menggenggam gadget, setiap manusia kini bisa meraih apa yang diinginkannya, bahkan dengan facebook atau media sosial lainnya itu pula kini manusia bisa “berguru” dan konsultasi spiritual tanpa batas dan tanpa adanya rasa kekhawatiran kapasitas, silsilah guru maya itu berada. Hingga akhirnya kini muncul guru-guru spiritual “karbitan” dan banyak digandrungi oleh kaum muda yang dengan PD nya berjalan seakan atas nama agama, berpenampilan sesuci malaikat, bertutur seindah pesan Nabi walau hanya dengan 1 kallam Illahi tanpa dibarengi telaah mendalam nan teliti.

Dan kini kita bisa lihat hasilnya, banyak kaum-kaum muda yang cukup gandrung untuk mengikuti, menshare “ucapan-ucapan suci” tanpa dibarengi telaah kritis yang seakan telah menjadi bagian dari dakwah suci walau terkadang malah menyakiti.

Terlebih lagi akhir-akhir ini, ada fenomenan 2 “kutub” kekuasaan tingkat elit yang sering bersebrangan, misalnya saja kutub pro prabowo dan pro jokowi, kutub para cebong dan kampret, yang turut menyeret masyarakat terlibat dalam “persetruan” tersebut. Masayarakat yang belum tentu tahu sesungguhnya apa yang terjadi terbawa bawa dan menjadi “budak” politik kekuasaan. Hal ini terlihat dari informasi-informasi yang berseliweran di media sosial disertai dengan caci maki, argumentasi agama, saling menyalahkan, bahkan menjamurnya hoax tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang berkepntingan, melainkan juga oleh masyarakat secara umum. Misalnya saj dikutip dari liputan6.com, hasil penelitian di Amerika, orang berpendidikan paling banyak sebar hoax. Lebih dari itu, laporan pengaduan konten negatif yang ditujukan pada Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2017 meningkat secara signifikan hingga mencapai 32 ribu dalam kurun waktu 7 bulan.

Baca juga: Makna Kemerdekaan Menurut Pendiri Prokutim

Kalau yang demikian terjadi terus menerus, tanpa adanya kesadaran oleh masyarakat, menurut penulis hal ini bisa menjadi stigma tersendiri, seakan akan yang terjadi adalah “pertempuran ideologis”, yang dengan gampangnya saling lempar kallam illahi dengan dalih “kami yang benar” tanpa memberi ruang diskusi untuk mencari sebuah solusi agar tidak saling menyakiti. Sederetan ucapan-ucapan “dari langit” pun terus dilontarkan untuk saling menghakimi dan terus menghakimi tanpa pandang bulu dengan dalih ini agama yang tidak bisa ditoleransi, dan seterusnya.

Apakah ini Indonesia dengan bhineka tunggal ikanya saat ini, ataukah ini bumbu dari demokrasi? Pemerintah bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat harus menjawab persoalan ini tanpa harus terjebak dalam ruang “perebutan ideologi”, politik dan kekuasaan negeri agar peluru-peluru kebencian yang terbungkus kalam kalam illahi tidak lagi menyasar tanpa arah dan dapat memecah belah NKRI. Masyarakat sebagai bagian dari anak bangsa juga harus menyadari dan sadar betul akan pentingnya kesatuan NKRI, telaah, selami dan dalami kebenaran serta validitas dari setiap informasi yang diterimanya sebelum disebarkan ke pengguna lainnya. Mari kita sebagai masyarakat untuk bersama-sama mengedepankan pentingnya empat pilar kebangsaan dan yang jauh lebih penting dari perdebatan-perdebatan “hampa” dalam dunia maya. Jangan lagi kita mau menjadi “budak-budak” politik kekuasaan yang saling menyalahkan, saling menghujat, saling mencaci dan mendiskreditkan kelompok atau golongan lain, dan yang terpenting mari kita selamatkan NKRI tanpa harus jual beli kalam Illahi.

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement