15 Juni 2020

author photo

Terasbangsa.com - Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah mengumumkan pembelajaran tatap muka pada tahun ajaran baru 2020/2021. Hal tersebut disampaikan oleh Nadiem Makarim melalui video telekonferensi, pada Senin (15/6/2020) yang diikuti oleh Kemendikbud, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Komisi X DPR RI.

Selain mengumumkan kapan dibukanya tahun ajaran baru 2020/2021, dalam telekonferensi juga mengumumkan rencana penyusunan Keputusan Bersama Empat Kementerian tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19).

"Seperti yang telah saya informasikan sebelumnya bahwa tahun ajaran 2020/2021 tidak berubah jadwalnya, tetap bulan juli 2020", ujar Nadiem Makarim melalui telekonferensi. 


Lanjut Nadiem, tidak semua sekolah melakukan pembelajaran tatap muka, yang dibolehkan hanya daerah yang berada pada zona hijau, itupun dengan berbagai ketentuan. Sementara daerah berada pada zona kuning, orange, dan merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka. 

"Untuk saat ini yang boleh tatap muka ada beberapa kriteria, pertama daerah pada zona hijau, kedua pemda harus memberikan izin,ketiga, satuan pendididikan harus menerima ceklist ketentuan protocol kesehatan yang harus dipenuhi, kemudian orang tua harus setuju anaknya ke sekolah", tambahnya.

Berikut  3 tahap sekolah dibuka menurut Mendikbud:
1. Tahap I jenjang SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, paket B 
2. Pada II dilaksanakan dua bulan setelah tahap I yakni bagi jenjang SD, MI, Paket A dan SLB. 
3. Tahap III dilaksanakan dua bulan setelah tahap II yakni bagi jenjang PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal. 


Lanjut Nadiem, semua aktifitas bercampur tidak diperbolehkan, seperti ke kantin,kegiatan olahraga maupun ekstra kurikuler dan sejenisnya.

“Jadi, esensiya adalah apapun aktifitas-aktifitas perkumpulan, misalnya bercampur satu kelas dengan kelas lain belum diperbolehkan dalam masa transisi”, kata Nadiem. ***mctr

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement