27 September 2021

author photo



Oleh: Mukhtar

Sudah dua kali ramadhan, masyarakat islam Indonesia menjalani puasa di tengah pandemic. Meski berbeda dengan ramadhan sebelumnya yang dilarang untuk sholat tarawih berjamaah di masjid/mushola, ramadhan kali ini memberikan kelonggaran pada masyarakat untuk beribada secara jamaah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Memang lebih dari satu tahun sejak diumumkannya secara resmi oleh Pemerintah Indonesia tentang kemunculan penyakit mematikan corona virus deserse (Covid-19) pada Maret 2020 lalu, sampai saat ini pandemik tersebut seolah tidak mau hengkang dari bumi Indonesia, malah sebaliknya jumlah kasus positive akibat virus covid-19 dari waktu ke waktu kian meningkat, bahkan cenderung mengkhawatirkan karena melihat kasus dari India.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, salah satunya di momen ramadhan menjelang Idul Fitri ini, pemerintah memberlakukan larangan mudik bagi seluruh masyarakatnya. Bukan perkara mudah untuk menertibkan masyarakat yang mungkin belum bisa ketemu keluarga saat lebaran tahun lalu, dan kini pun dilarang kembali, hingga banyak masyarakat yang berusaha melawan kebijakan pemerintah tersebut.

Sisi lain, dikutip dari Leo Agustino tentang penanganan wabah covid-19, sulitnya menekan penyebaran covid-19 diakibatkan oleh banyak hal, diantaranya: (1) Narasi narasi negativ dari pejabat pemerintah yang mencerminkan ketidakseriusan dalam menganalisa perkembangan saat awal kemunculan covid-19 di Wuhan, (2) Kurang baiknya komunikasi dan koordinasi antar stakeholders, hal ini nampak dari berbagai kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah yang tidak sinergi, (3) warga acuh/abai terhadap himbauan pemerintah, hal ini nampak dari banyaknya orang berkumpul di tempat tempat keramaian, seperti Caffe, Mall, Bioskop, atau tempat tempat yang dilarang saat pelaksanaan PSBB. Selain itu, hal lainnya, banyak masyarakat yang tidak mematuhi untuk memakai masker dan mencuci tangan saat keluar rumah serta akibat kebutuhan hidup yang mengharuskan keluar rumah (Leo Agustino: 2020,260-264). Mirisnya, berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik, sebanyak 55% masyarakat tidak patuh terhadap protokol kesehatan akibat tidak adanya sanksi serta kata “kurang” dan “kesadaran” yang sering menjadi alasan orang tidak mematuhi (BPS: September 2020, 10-11).

Kata “kurang” dan “kesadaran” yang menjadi faktor ketidakpatuhan masyarakat akan anjuran pemerintah dalam menangani penyebaran covid-19, nampaknya masih tercermin dari berbagai pelanggaran pelanggaran yang dilakukan masyarakat saat hendak mudik dengan memaksa dan mencoba menerobos sekat sekat yang dijaga ketat oleh Polisi. Tidak hanya itu, pemalsuan hasil antigen, perlawanan terhadap aparat yang menjaga pintu pintu perbatasan juga masih sering terjadi.

Dari berbagai persoalan yang menghambat penanganan pandemi tersebut, bisa dikatakan persoalannya adalah kurang satu padunya (bersatu) dalam visi dan harapan antara pemerintah dengan masyarakat, hal ini ditandai dengan adanya diskomunikasi berbagai pemangku kebijakan serta acuhnya masyarakat terhadap himbauan pemerintah. Untuk itu, kata kunci “persatuan” menjadi penting untuk ditanamkan dalam benak seluruh masyarakat Indonesia agar bisa keluar dari jeratan pandemik yang mematikan.

Mungkin masyarakat yang hendak memaksa mudik lebaran dengan harapan bisa bertemu keluarga dan melepas kerinduan bisa mengambil contoh dari sepenggal kehidupan Ridwan Kamil, orang nomor satu di Jawa Barat saat berinteraksi dengan istrinya yang sedang menjalani isolasi mandiri akibat terpapar covid-19.

Bayangkan, walaupun satu rumah, keduanya tidak bisa bercengkerama langsung, bahkan komunikasi pun hanya bisa dilakukan dengan bantuan telephone genggam maupun media kaca yang menjadi penyekat antara Ridwan Kamil dan Istrinya. Melalui akun twitternya @ridwankamil pada Minggu, 18 April 2021, Kang Emil sapaan akrabnya memposting cara dia berkomunikasi dan menyemangati sitrinya  melalui kaca penyekat dengan menulis “I Love You, Get Well Soon" dan menggambar lambang hati di bawah tulisan. Bahkan dikutip dari media tv nasional yang mengunjungi Ridwal Kamil dalam “Buka Bersama Gubernur Jabar”, keduanya (Ridwan Kamil dan Atalia) bercerita bagaimana ujian yang dialaminya akibat covid-19, bahkan terlihat Ridwan Kamil berbuka puasa tanpa didampingi istri tercinta.

Jika melihat contoh tersebut, apakah kita semua yang masih “dijauhkan” dari covid-19 dan ingin terus memaksa untuk mudik dengan kemungkinan bisa terpapar covid-19 dari perjalanan mudik tersebut, apakah kita siap untuk berbagi kisah seperti ridwan kamil ke dua yang hanya bisa memandang dan komunikasi dari jauh dengan orang tersayang?

Tentu kita semua bisa ambil pelajaran dari contoh tersebut, betapa pentingnya menjaga diri dan keluarga kita agar terhindar dari covid-19, maka yang bisa dilakukan tidak lain dan tidak bukan, kuncinya ada pada diri sendiri, salah satunya di momentum ramadhan ini, bisa meresapi nilai persatuan yang ada dalam surah Al Imron ayat 103.

Banyak contoh dengan kata kunci “persatuan” yang menjadi salah satu sila dalam pancasila mampu menjadi spenyemangat dan motivasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan, misalnya dari masalah terbebasnya dari penjajahan sampai masa kemerdekaan. Soekarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat mengatakan masyarakat Indonesia tidak kunjung lebih baik dan selalu terjajah akibat rakyat tidak bersatu. Alimin dalam buku yang sama juga mengatakan rakyat tidak kunjung lebih baik nasibnya saat dijajah karena rakyatnya berjuang sendiri sendiri (Cindy Adams: 2014, 49). Selain itu munculnya organisasi Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda juga merupakan cerminan persatuan anak bangsa sebagai embrio dari persatuan melawan penjajah.

Dalam konteks penanganan pandemik, pada tahun lalu, dikutip dari medicalfuturist.com, Jerman sebagai salah satu Negara terbaik dalam menangani covid 19 menekankan tindakan bersama dan bersatu tangani covid-19, seperti yang diungkapkan oleh Konselor Angela Merkel:“This is serious,” she said in her speech. “Since German unification — no, since the Second World War — no challenge to our nation has ever demanded such a degree of common and united action”. Baiq Wardani, mengungkapkan Selandia Baru sukses dalam menangani covid 19 dari 1500 kasus positif dan meninggal 20 orang, langkah yang dilakukan diantaranya karena Selandia baru mampu mengesampingkan perbedaan pendapat dengan rasa kesadaran pentingnya persatuan dan kebersamaan hadapi covid-19, seperti yang diungkapkan oleh Direktur Jendral Kesehatan Selandia Baru, Ashley Bloomfield. PM Selandia Baru Adern dalam kepemimpinannya, langkah yang diambil salah satunya adalah mendesak wargnya bersatu melawan covid-19 (Baiq Wardani: 301-304).

Dengan berkaca pada berbagai masalah akibat kurangnya rasa “persatuan”, memunculkan sebuah pertanyaan modal dasar Sila “Persatuan Indonesia” dalam Pancasila nampaknya belum merasuk ke sanubari masyarakat. Sisi lain, jargon jargon persatuan untuk hadapi pandemic yang diungkapkan oleh Presiden Jokowi dalam Sidang Majelis PBB ke 75,  dalam peringatan Sumpah Pemuda 2020, ajakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada warganya untuk bersatu padu hadapi covid-19, bahkan, lebih sakral akan pentingnya kata “persatuan”, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo mengatakan Pancasila menjadi modal bagi Indonesia untuk atasi pandemic (republika.co.id). Namun, fakta yang terjadi masih banyaknya masyarakat yang acuh terhadap ajakan bersatu tersebut,khususnya dalam hadapi pandemic. Untuk itu perlu kiranya bagi umat islam khususnya dalam meningkatkan rasa persatuan hadapi pandemic, di momentum ramdhan ini perlu menggali nilai nilai dalam kalam kalam Illahi, salah satunya surah Al Imron ayat 103, yang artinya:

“Dan berpegang teguhlahikamuisemua ikepada talii (agama) iAllah, idan jangnlah kamu bersecari berai. DaniingatlahiakaninikmatiAllahikepadamuiketikaikamuidului ( masa jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karenainikmatiAllah, iorangiorang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, kemudian Allh menyelamtkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir, maksud dari ayat tersebut adalah untuk berpegang pada Al Qur’an dan dilarang bercerai berai.  Lebih lanjut, dalam tafsir tersebut juga ditekankan bila persatuan dan kesatuan ada dalam hidup mereka, maka akan selamat dari kesalahan, seperti dalam banyak hadist tentang persatuan dan kesatuan (Al Imam Abu Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad Dimasyqi: 50-51).

Sementara itu dalam tafsir Al Misbah, ayat tersebut mengandung pesan untuk ”berpegang teguhlah”/ usaha yang kuat dengan penuh tenaga untuk mengaitkan diri satu dengan lainnnya berdasarkan ajaran Allah secara disiplin tanpa kecuali dan menekankan untuk bersatu padu dan jangan bercerai berai serta ingat ni’mat Allah kepadamu (M. Quraish Shihab : 2005, 169-170).

Jika ayat tersebut ditafsirkan dengan konteks saat ini yakni persoalan pandemik Corona Virus Deserse (Covid-19) yang “memporak porandakan” tatanan kehidupan,  nampaknya kata dan semangat persatuan sangat relevan untuk ditanamkan dalam setiap sanubari. Persatuan tidak hanya dilihat sebagai jargon semata seperti “bersatu lawan covid-19”, melainkan mengandung nilai sekaligus ajaran yang harus diimplementasikan, bahkan dalam tafsir menunjukkan perintah untuk bersatu.

Jauh sebelum masalah covid-19,bahkan sebelum Indonesia merdeka, ajakan bersatu dan semangat dari persatuan itu sudah menjadi semangat yang diajrakan oleh para founding father kita. Soekarno mengingatkan betapa pentingnya persatuan yang bisa mengantarkan terbebasnya Indonesia dari penjajah. Tidak hanya itu, naskah deklarasi dalam sumpah pemuda juga mengandung makna dan ajakan bersatu dalam bahasa, tanah air dan berbangsa. Dengan semangat tersebut sehingga memunculkan semangat kebangkitan para pemuda yang membuat “gelisah” Belanda yang sedang menjajah Indonesia (Sutejo K. Widodo: 4). Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari tokoh pendiri organisasi social keagamaan terbesar di Indonesia juga telah menyampaikan betapa pentingnya persatuan. Persataun yang dimaksud dalam pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang persatuan, menurut Muhammad Coirun Nizar terbagi dua, yakni: pertama, persatuan dalam konteks kebangsaan, bahwa persatuan itu dilandasi persamaan bangsa. kedua, persatuan keagamaan yang dilandasi kesamaan agama (Muhammad Coirun Nizar: 66).

Lebih jauh, dalam ajaran islam jelas ditekankan seperti dalam surah Al-Imran:103, persatuan itu menjadi ajaran yang harus dilaksanakan dan bercerai berai itu dilarang karena dapat menimbulkan perpecahan dan mendekatkan diri pada api neraka. Memang konteks ayat tersebut turun bukan pada kondisi pandemik seperti saat ini, namun ayat tersebut juga tidak menjastifikasi pada satu persoalan tertentu, artinya persatuan sangat diperlukan guna menghadapi persoalan dan waktu yang berbeda seperti pandemik. Contoh sudah jelas menggambarkan, dengan adanya orang orang yang acuh (bercerai berai) dalam pandemik, akhirnya kasus positif meningkat. Pentingnya persatuan bukan hanya sebagai semangat, melainkan bernilai ibadah, hal ini juga diperkuat dengan hadis Nabi saw yang artinya:

“Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah menyukai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta. Dan telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farruh telah mengabarkan kepada kami Abu Awanah dari Suhail dengan isnad seperti ini, namun dia berkata, 'Dan dia murka terhadap tiga perkara dari kalian, dan tidak menyebutkan, dan janganlah kalian berpecah belah” (Hadis Sahih Muslim No 3632).

Dalam hadis tersebut, mengandung makna konsekuensi dari berpegang teguh pada agama Allah dan tidak tercerai berai” (bersatu) merupakan hal yang diridhai Allah. Artinya ketika umat manusia mempunyai semangat yang sama untuk bersatu padu hadapi covid-19, maka hal itu akan diridhai Allah. Tentunya, bagi Indonesia yang notabenenya mayoritas muslim sangat ditekankan apabila “persatuan” diimplementasikan dengan baik, bukan saja soal dampak positive dari menyelesaikan pandemik dengan semangat bersatu seperti Taiwan, Jerman dan Selandia Baru yang notabenenya minoritas muslim, tapi akan bernilai ibadah dan mendapat ridha Allah swt karena mengamalkan persatuan dan tidak bercerai berai dalam hal penanganan musibah ini. Jika berkaca dari langkah langkah beberapa Negara yang berhasil atasi pandemic covid-19 seperti Taiwan, Jerman, dan Selandia Baru, point penting dalam penangannnya adalah bersatu padu (adanya persatuan), tidak mustahil pula bagi Indonesia untuk terbebas dari “jajahan” Covid-19.

Artikel ini merupakan saduran dari artikel yang terbit pada Jurnal Studi Alquran UNJ dengan judul “Pentingnya Nilai Persatuan Perspektif Surah Al Imron 103 Untuk Hadapi Pandemi Covid-19” http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jsq/article/view/20158 

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

This Is The Newest Post
Previous article Previous Post

Advertisement